Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jacob Ereste : Sekelumit Kenangan Bersama Ray Sahetapy

Rabu, 02 April 2025 | 17.48 WIB | 0 Views Last Updated 2025-04-02T10:48:57Z

 




kontakpublik.id, JAKARTA--Aktor senior perfilman Indonesia Ray Sahetapy meninggal dalam usia nyaris genap 70 tahun. Sebagai putra kelahiran Donggala, 2 Januari 1957 ini telah berperan dalam puluhan film Indonesia hingga memberi kesempatan baginya bermain di Hollywood, habitat insan film klas dunia yang sangat bergengsi.


Ray Sahetapy telah sekit-sakitan sejak 15 tahun terakhir, juga telah meninggal andil yang banyak lewat karya seni perfilman Indonesia. Kecuali itu sumbangan gagasan dan pemikirannya pun banyak mewarnai perjalan budaya bangsa Indonesia, termasuk filsafat tentang seluk beluk rumpun bambu yang menurutnya memiliki kesan tersendiri dan sungguh unik.


Forum diskusi rutin Mingguan yang saya besut bersama kawan-kawan Klinik Hukum Merdeka di Komplek Bina Marga, Jl. Pramuka, Jakarta Timur sejak awal tahun 2000-an, semakin intensif mengakrabkan jalinan pribadi kami, tak hanya sekedar diskusi tentang berbagai masalah politik serta budaya sampai soal spiritual tapi saling curhat pribadi pun semakin mendalam. Karena itu, penulis memiliki otoritas khusus untuk menyatakan protes keras, ketika  mengetahui jalinan di dalam keluarganya bersama Dewi Yull  mengalami guncangan.


Awal dari keakraban penulis bersama Ray Sahetapy sudah terjalin dari berbagai pertemuan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang menjadi terminal persinggahan semua seniman Indonesia. Lalu bersambung nyaris rutin dalam berbagai kesempatan acara ngopi bareng di berbagai tempat. Bahkan, acap nongkrong di warung pinggir jalan, seperti pernah terjadi di kawasan Roxy, Jakarta Pusat.


Semasa rezim  pemerintahan Orde Baru, diskusi bersama Ray Sahetapy juga acap penulis kunjungi, saat masih bermukim di Tebet, Jakarta Selatan. Forum diskusi di kediaman Ray Sahetapy ini memang lebih terkesan diinisiasi oleh Dewi Yull yang lengkap namanya adalah Raden Ajeng Dewi Pudjijati yang merasa tidak pamali untuk menyediakan waktu dan tempat untuk memaparkan masalah perburuhan yang sedang dominan menimbulkan masalah krusial di tanah air kita.


Kecuali itu memang, organisasi buruh yang penulis wakili sungguh memiliki perhatian dan ketertarikan terhadap kesenian untuk sebagai sarana membangun kesadaran bagi kaum buruh Indonesia yang harus berserikat agar dapat berjuang untuk memperbaiki kesejahteraan kaum buruh dalam arti luas.


Apalagi ketika itu, Ray Sahetapy yang sudah terbilang aktor senior di jagat perfilman Indonesia sudah berstatus mualaf. Status mualaf ini pula yang menjadi daya tarik untuk memahami proses kesadarannya yang sangat spiritual itu sifatnya. Kendati acara pemakaman bati akan dilakukan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Harti Jum'at, 4 April 2025, lantaran harus menunggu kehadiran Surya Sahetapy datang dari Amerika. Maka itu sampai hari ini jenazah almarhum masih disemayamkan di Rumah Duka Sentosa, Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta Pusat.


Ray Sahetapy yang lahir di Donggala, 1 Januari 1957, wafat pada hari raya lebaran kedua  Idul Fitri, hari Selasa 2 April 2025. Terakhir dia hidup bersama Sri Respatini Kusumastuti sejak Oktober 2024, setahun setelah Ray Sahetapy berpisah dengan Dewi Yull yang mendapat reaksi protes dari banyak kawan dan penulis sendiri. Lama setelah itu Ray Sahetapy baru diketahui terserang d

berbagai penyakit stroke dan diabetes. Namun jauh sebelum itu kesaksian mualaf  Ray Sahetapy diungkap Dewi Yull sudah dimulai sejak tahun 1992. Agaknya itu pula yang semakin mempererat jalinan persaudaraan antara kami terus berlanjut hingga Ray Sahetapy bermukim di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.


Diskusi berbagai topik -- termasuk masalah keagamaan dalam perspektif filsafat -- tak kalah seru dengan topik kesenian dan kebudayaan, baik di forum formal maupun antar pribadi kami yang acap diselipkan  semacam curhat yang pribadi sifatnya. Dan pernah pada suatu kesempatan penulis melakukan kontak per telepon dengan Ray Sahetapy untuk hadir pada acara diskusi antara tahun 2004-2006, dia  menyatakan tak bisa hadir lantaran sedang shooting film di Eropa. Dan untuk itu berjanji akan menebus kekecewaan penulis pada kesempatan berikutnya. Keruan saja, dia berkenan datang dalam diskusi informal bersama seniman Mas'ud Pane dan budayawan Sri Lalu Gdhe Pharma dan jawan-kawan  di sebuah coffe di kawasan Jl. Veteran Jakarta Pusat. Hingga kawan-kawan merasakan surprise dan gembira atas kehadiran Ray Sahetapy yang tidak pernah mereka duga. Tentu momentum serupa itu kini akan tetap menjadi yang indah untuk terus di kenang sampai sekarang, setelah saudara, sahabat dan kerabat setia yang ugahari itu meninggalkan kita semua.

 

Dalam beberapa kesempatan singgah atau dijemput langsung oleh Ray Sahetapy untuk bercengkrama di rumahnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, yang paling terkesan adalah rumpun bambu (biasa) yang subur menutupi seluruh halaman muka di depan rumahnya. Hingga penulis menduga, filosofis tentang bambu inilah yang menginspirasi gagasan dan pemikirannya tentang Nusantara yang telah dia populerkan pula sebagai ucapan salam untuk semua orang.


Protes penulis yang kedua adalah tentang koleksi kucing di rumahnya di kawasan Kemang ini terkesan liar, karena jumlahnya -- saya kira -- lebih dari ratusan jumlahnya. Toh, persoalan pertama bisa segera muncul ketika harus ditinggalkan. Kedua, betapa besar biaya pemeliharaan untuk ratusan kucing yang berserakan di semua ruangan rumahnya itu.


Namun sambil terkekeh Ray Sahetapy mengungkapan bila semua kucing itu berada di luar otoritas kekuasaannya. "Kucing itu hobbynya Iin" katanya sambil mengajak bergeser ke forumnya Sys MS yang berada di seberang tempat kediamannya di kawasan Kemang yang elite itu.Cinere, 1 - 2 April 2025 (red)

×
Berita Terbaru Update